Jumat, 19 Desember 2014

Percikan Api

Sederet cerita sukses yang menjejali benakku memang menyesatkanku. Seperti cerita orang yang memiliki perusahaan besar, mendapat jabatan tinggi, atau ketenarannya diagungkan di seluruh penjuru dunia. Semuanya memberiku satu pertanyaan, "Apakah hidup hanya untuk itu?"

Merunut pada penciptaan manusia yang lebih mulia dari malaikat, dan tujuan manusia di bumi untuk menjadi pemimpin, tentunya apa yang harus dilakukan oleh manusia tidaklah seperti itu. Namun orang sepertiku seolah ditakdirkan untuk tidak memikirkan banyak hal. Setelah lulus sekolah, aku harus bekerja, menikah, punya anak, cucu, tua, dan mati. Perjalanan hidupku selesai setelah terbujur kaku di pembaringan. Namun pertanyaan itu seperti memercik api pada tungku bara yang selama ini hanya menumpuk tak berarti. Pertanyaan yang akhirnya membawaku pada pemberontakan.

Aku memberontak tradisi itu. Tradisi di mana orang - orang hanya puas menjadi kuli, dan hanya mengharapkan keajaiban jika ingin taraf hidupnya sedikit lebih baik. Usaha untuk mencari jawaban itu yang menggelorakan api di tungku bara yang ada di hati dan jiwaku.

Seperti juga menarik benang kusut, satu persatu bisa teruraikan. Benang yang paling mendasar adalah hakikat dari manusia yang wajib beribadah pada Tuhan. Benang ini bisa kusut jika disibukan dengan jam kerja yang mengikat. Di mana seseorang hanya menyisakan sedikit waktunya yang mungkin hanya bisa ia gunakan untuk melepas lelah. Benang ke dua sebuah dalil yang menyebutkan jika manusia paling baik adalah manusia yang bermanfaat untuk orang lain. Benang itu bisa rapuh karena dalam persaingan profesi orang kadang terjebak. Orang - orang justru saling sikut dan memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya.

Hanya dengan dua benang itulah aku kemudian memilih jalan untuk menjadi Penulis. Aku punya banyak waktu luang untuk beribadah, dan aku pun bisa membagi manfaat ilmu pada sekian banyak orang. Prosa menjadi pilihanku. Setiap kalimat yang tertuang akan menjadi penjaga api untuk bara yang menggelora di hati dan jiwaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar