Jumat, 08 Januari 2016

CERPEN

Dimuat di Inilah Koran, 30 Agustus 2015

BERKUMPUL BERSAMA IBU
Carpen: Yadi Karyadipura

Selalu ada pukau di mata Ibu Sutarmi setiap kali memandang halaman pada waktu menjelang senja. Terduduk di kursi anyaman, perempuan tua itu melepas pandangannya ke segala arah: bunga-bunga, hamparan rumput, pohon mangga, dan tanaman obat. Semua yang ditatapnya selalu memancing ingatan silam yang masih bisa ia kail.
Saat lamunannya terdampar di masa silam, Ibu Sutarmi hanya terduduk sambil tersenyum. Kadang senyumnya merekah diakhiri tawa ringkih, kadang pula senyumnya berakhir dengan linangan air mata. Namun keduanya memiliki tanggapan yang sama bagi Ibu Sutarmi. Setelah ingatannya pulang dari silam, Ibu Sutarmi mengambil jarum dan benang rajut. Membuatkan rajutan untuk anak-anaknya.
Seperti sore ini, Ibu Sutarmi sedang menyelesaikan sebuah scraft. Kacamata membantunya menyilangkan jarum di antara celah benang yang sudah dibuatnya. Ibu Sutarmi baru berhenti ketika bayangan matahari telah pudar.
“Uhuk,,, uhuk!”
Suara batuk mirip mesin tua hendak mogok. Ibu Sutarmi menghentikan sejenak kegiatannya. Ia masih melirik ke meja, meskipun tahu tak ada teh di sana. Dua minggu ini Ibu Sutarmi tidak meletakan teh dan kue kering di meja. Ibu Sutarmi menghormati orang yang sedang berpuasa. Meski ia tidak menjalankan ibadah tersebut karena usia.
“Uhuk,, uhuk!” Ibu Sutarmi mengelus tenggorokannya. “Uhuk,,, uhuk!”
Jarum, benang, dan scraft yang belum jadi, diletakan di pangkuan. Ibu Sutarmi mengangkat pandangan. Sebentuk bayangan hitam tampak di depannya Ibu Sutarmi membetulkan letak kacamata, lalu mendesis, “senja kali ini terasa lebih cepat!”
Ibu Sutarmi menengadahkan pandangan. Mata tuanya terkejut karena matahari masih bersinar di barat. Hanya saja, senja ini, ada sesuatu yang menghalangi cahaya matahari, hingga berbentuklah serupa bayangan hitam di depan. Ibu Sutarmi menatap lekat sesuatu yang menghalangi sinar matahari.
“Fahri…” suaranya teredam oleh serak sisa batuk. “Anakku…”
Sosok di depan Ibu Sutarmi adalah seorang pemuda tampan berperawakan kekar. Pemuda yang menenteng bungkusan itu bergerak mendekat. Mencium tangan Ibu Sutarmi.
* * *
Scraft yang dibuat Ibu Sutarmi telah jadi. Tak hanya scraft, tapi juga sarung tangan bayi dan syal. Semuanya diberikan Fahri pada Nabila.
“Ibu sangat kesepian. Ibu juga batuk. Aku takut ibu sakit, dan tidak ada yang mengurusnya.” kata Fahri dengan perasaan sedih, “aku sudah membujuk ibu untuk ikut ke rumahku. Tapi ibu tidak mau.”
“Sekalipun ibu mau, ibu akan tetap kesepian. Di rumahmu tidak ada siapa-siapa saat kamu bekerja.” kata Nabila sambil melihat tiga pasang sarung tangan bayi dengan corak berbeda. Tangan kanannya mengelus perut yang makin membesar. “Biar Teteh yang membujuk ibu.”
Azan magrib menyelangi pembicaraan kakak beradik yang sudah berpisah rumah. Kang Maksum datang membawa hidangan berbuka. Kakak ipar Fahri merupakan seorang eksekutif muda yang sudah memiliki rumah sendiri sebelum menikahi Nabila. Berbeda dengan Fahri yang baru bisa mencicil rumah setelah setahun bekerja di sebuah bank.
“Selipkan doa sebelum berbuka. Berdoalah supaya lekas dapat jodoh,” Kang Maksum menyinggung kesendirian Fahri.
Fahri mengamini sambil tersenyum. Di antara keluarganya, tinggal ia yang belum menikah. Fahri memang anak bungsu, dan menjadi anak terakhir yang merantau. Kakak-kakaknya sempat menyarankan agar Fahri tidak mengikuti jejak merantau. Fahri tetap tinggal bersama ibunya, dan bekerja di sekitar kota kecil.
Kehidupan kota kecil mengandalkan pabrik tekstil. Tak memberi banyak pilihan. Dengan title sarjana ekonomi yang disandangnya, Fahri mulai merintis karir sebagai karyawan bank swasta di kota besar. Siklus kehidupan itu seolah menjadi garis takdir bagi keluarganya. Semua anggota keluarga mengawali perantauan di kota besar dengan mendapatkan pekerjaan. Nabila pun awalnya bekerja di perusahaan asuransi sebelum dinikahi Kang Maksum.
“Hanya di hari sabtu dan minggu, aku bisa pulang dan bertemu ibu.” Fahri menaruh gelas berisi cendol yang telah kosong. “Setiap kali bertemu, ibu selalu bilang seperti ini, ‘segeralah menikah, nak! Ibu ingin menyaksikan pernikahanmu sebelum meninggal.”
“Apa harus akang carikan calon untukmu?” Kang Maksum terus menggoda.
“Sudah ada, Kang! Insya Allah, itu pilihan terbaik.”
* * *
Perempuan hamil yang tinggal sendirian saat suaminya bekerja. Bujukan Nabila itu ternyata berhasil. Ibu Sutarmi bersedia tinggal di rumah Nabila. Itu artinya anggoat keluarga bisa sering menemui ibu Sutarmi, mengingat rumah Nabila berada di kawasan terpadu. Keadaan itu menjadikan rumah Nabila selalu hangat, terutama setiap menjelang berbuka puasa. Kehangatan kumpul bersama keluarga kembali terasa meski tidak utuh.
Ibu Sutarmi tak lagi melamun, karena bisa bercerita banyak hal pada anak-anaknya yang datang di waktu-waktu tertentu. Ibu Sutarmi pun tak lagi sendirian membuat rajutan. Nabila selalu menemaninya saat senja sambil menunggu Kang Maksum pulang.
“Ibu mau buat apa?” Nabila melirik ibunya yang baru akan memulai lagi.
“Selendang,”
 “Untuk siapa, Bu?”
“Katanya lebaran nanti Fahri akan memperkenalkan calon istrinya. Selendang ini untuk calon menantu ibu, calon adik iparmu.”
Nabila tersenyum. Berita itu sudah membuat Ibu Sutarmi merasa bahagia.
Beberapa hari kemudian—setelah menyelesaikan selendang rajutan—Ibu Sutarmi kembali berkeinginan untuk pulang. Perempuan hamil tidak boleh dibiarkan sendirian di rumah, bujukan itu tidak lagi mempan untuk Ibu Sutarmi. Kang Maksum sudah mendapat jatah libur lebaran. Usia kandungan Nabila baru akan menginjak delapan bulan.
Berita kepulangan Ibu Sutarmi terlambat sampai ke telinga Fahri. Bank tempatnya bekerja mencapai puncak kesibukan. Selain itu, Fahri juga tersedot oleh kesibukan calon mertuanya dalam menyambut lebaran.
“Ibu ingin mengurus makam almarhum ayah kita. Teteh tidak bisa mencegahnya,” kata Nabila sambil merapikan bawaannya. “Ibu juga ingin mempersiapkan segala sesuatu di acara kumpul keluarga. Jangan khawatir katanya. Ibu dibantu oleh tetangga.”
“Calon anggota baru keluarga juga harus hadir,” Kang Maksum menimpali sambil menenteng parsel. “ada kabar dari yang lainnya?”
“Kang Muslihat katanya baru saja sampai. Aku.. besok setelah ied. Shilaturahim dulu dengan keluarga ukhti, lalu minta izin membawa ukhti ke hadapan ibu.” Fahri mengabari sesuatu. Smartphone-nya berdering. Calon istri memanggil.
Nabila dan suaminya saling lirik sambil tersenyum. Pasutri itu kembali mengemas barang bawaannya. Di sela persiapan akhir, keduanya mendengar nyala mesin mobil Fahri. Adik bungsunya itu bergegas ke suatu tempat.
Langkah pulang direntang setelah tak ada lagi yang dikhawatirkan. Sebuah rumah megah di komplek elite mendapat penjagaan superketat. Tuan rumah hanya perlu mematikan semua perlengkapan listrik, dan memastikan tidak ada api yang menyala. Setelah itu, mobil mewah meluncur ke kota kecil.
Suasana jalanan sangat kontras. Kemacetan terjadi menuju arah kota besar. Jalur menuju kota kecil sangat lengang. Kang Maksum bisa memacu kendaraan lebih cepat hingga meringkas jam perjalanan.
Gapura besar menjadi penanda masuk kampung halaman yang sudah padat. Jalanan mulus dengan bangunan megah di tiap sisinya. Kampung halaman yang selalu ada perubahan di tiap tahunnya. Termasuk rumah-rumah tempo dulu yang berganti dengan bangunan modern minimalis. Kecuali rumah ibunya yang masih mempertahankan gaya lama.
Rumah tua bergaya art deco dengan halaman yang luas, namun tak cukup mampu menampung banyaknya mobil yang datang. Kang Maksum memarkirkan mobil di pinggir jalan, tepat di bawah pohon akasia. Nabila turun lebih dulu. Disusul Kang Maksum yang menggandeng tangannya. Langkah keduanya menjejaki halaman. Di luar, tampak sanak saudara sedang berkerumun. Wajah mereka tertunduk, diliputi kesedihan.
“Aneh…” Kang Maksum bergumam dalam hati. “assalamualaikum…”
Ada getaran dari suara yang menjawab salam. Sambutan aneh diberikan sanak saudara. Nabila cukup terkejut. Namun Kang Maksum lebih memilih menuntun Nabila ke pusat kerumunan: ruangan tengah, tempat di mana ia lamat-lamat mendengar seseorang melantunkan tahlil.
Suara tahlil itu kian jelas. Pada jarak yang cukup dekat, tampak Kang Muslihat sedangan menuntun Ibu Sutarmi untuk mengucap tahlil. Tubuh Ibu Sutarmi terbaring kaku. Wajahnya pucat pasi. Matanya terpejam. Bibirnya bergerak sedikit sambil mendesiskan tahlil. Suara yang mengalun merdu itu diakhiri dengan embusan napas panjang nan melegakan. Lalu isak tangis memenuhi seisi ruangan. Kang Maksum tidak bisa menahan Nabila untuk berlari memeluk Ibu Sutarmi.
Kerumunan kian bertambah. Kang Maksum memilih mundur perlahan. Hujan air mata mengguyur kediaman keluarga besar mertuanya. Kang Maksum tidak mau larut meski hatinya terasa sangat bersedih. Ia masih memiliki kekuatan untuk bertahan dalam kesadaran. Kang Maksum segera menghubungi anggota keluarga yang tampak belum hadir.
“Fahri, segera ke rumah ibu sekarang. Semua orang sudah menunggumu. Kita semua sedang berkumpul bersama ibu.”
Di ujung sana, smartphone Fahri berbunyi. Begitu membaca BBM yang dikirim Kang Maksum, Fahri segera meluncur bersama calon istri yang akan ia perkenalkan kepada ibunya: perempuan cantik dengan selendang rajut buatan Ibu Sutarmi. * *
Majalaya, Juni 2015