Dimuat di Inilah Koran, 30 Agustus 2015
BERKUMPUL BERSAMA IBU
Carpen: Yadi Karyadipura
Selalu ada pukau di
mata Ibu Sutarmi setiap kali memandang halaman pada waktu menjelang senja.
Terduduk di kursi anyaman, perempuan tua itu melepas pandangannya ke segala
arah: bunga-bunga, hamparan rumput, pohon mangga, dan tanaman obat. Semua yang
ditatapnya selalu memancing ingatan silam yang masih bisa ia kail.
Saat lamunannya
terdampar di masa silam, Ibu Sutarmi hanya terduduk sambil tersenyum. Kadang
senyumnya merekah diakhiri tawa ringkih, kadang pula senyumnya berakhir dengan
linangan air mata. Namun keduanya memiliki tanggapan yang sama bagi Ibu
Sutarmi. Setelah ingatannya pulang dari silam, Ibu Sutarmi mengambil jarum dan
benang rajut. Membuatkan rajutan untuk anak-anaknya.
Seperti sore ini, Ibu
Sutarmi sedang menyelesaikan sebuah scraft. Kacamata membantunya menyilangkan
jarum di antara celah benang yang sudah dibuatnya. Ibu Sutarmi baru berhenti
ketika bayangan matahari telah pudar.
“Uhuk,,, uhuk!”
Suara batuk mirip mesin
tua hendak mogok. Ibu Sutarmi menghentikan sejenak kegiatannya. Ia masih
melirik ke meja, meskipun tahu tak ada teh di sana. Dua minggu ini Ibu Sutarmi
tidak meletakan teh dan kue kering di meja. Ibu Sutarmi menghormati orang yang
sedang berpuasa. Meski ia tidak menjalankan ibadah tersebut karena usia.
“Uhuk,, uhuk!” Ibu
Sutarmi mengelus tenggorokannya. “Uhuk,,, uhuk!”
Jarum, benang, dan
scraft yang belum jadi, diletakan di pangkuan. Ibu Sutarmi mengangkat
pandangan. Sebentuk bayangan hitam tampak di depannya Ibu Sutarmi membetulkan
letak kacamata, lalu mendesis, “senja kali ini terasa lebih cepat!”
Ibu Sutarmi
menengadahkan pandangan. Mata tuanya terkejut karena matahari masih bersinar di
barat. Hanya saja, senja ini, ada sesuatu yang menghalangi cahaya matahari,
hingga berbentuklah serupa bayangan hitam di depan. Ibu Sutarmi menatap lekat sesuatu
yang menghalangi sinar matahari.
“Fahri…” suaranya
teredam oleh serak sisa batuk. “Anakku…”
Sosok di depan Ibu
Sutarmi adalah seorang pemuda tampan berperawakan kekar. Pemuda yang menenteng
bungkusan itu bergerak mendekat. Mencium tangan Ibu Sutarmi.
* * *
Scraft yang dibuat Ibu
Sutarmi telah jadi. Tak hanya scraft, tapi juga sarung tangan bayi dan syal.
Semuanya diberikan Fahri pada Nabila.
“Ibu sangat kesepian.
Ibu juga batuk. Aku takut ibu sakit, dan tidak ada yang mengurusnya.” kata
Fahri dengan perasaan sedih, “aku sudah membujuk ibu untuk ikut ke rumahku.
Tapi ibu tidak mau.”
“Sekalipun ibu mau, ibu
akan tetap kesepian. Di rumahmu tidak ada siapa-siapa saat kamu bekerja.” kata
Nabila sambil melihat tiga pasang sarung tangan bayi dengan corak berbeda.
Tangan kanannya mengelus perut yang makin membesar. “Biar Teteh yang membujuk
ibu.”
Azan magrib menyelangi
pembicaraan kakak beradik yang sudah berpisah rumah. Kang Maksum datang membawa
hidangan berbuka. Kakak ipar Fahri merupakan seorang eksekutif muda yang sudah
memiliki rumah sendiri sebelum menikahi Nabila. Berbeda dengan Fahri yang baru
bisa mencicil rumah setelah setahun bekerja di sebuah bank.
“Selipkan doa sebelum
berbuka. Berdoalah supaya lekas dapat jodoh,” Kang Maksum menyinggung
kesendirian Fahri.
Fahri mengamini sambil
tersenyum. Di antara keluarganya, tinggal ia yang belum menikah. Fahri memang
anak bungsu, dan menjadi anak terakhir yang merantau. Kakak-kakaknya sempat
menyarankan agar Fahri tidak mengikuti jejak merantau. Fahri tetap tinggal
bersama ibunya, dan bekerja di sekitar kota kecil.
Kehidupan kota kecil mengandalkan
pabrik tekstil. Tak memberi banyak pilihan. Dengan title sarjana ekonomi yang
disandangnya, Fahri mulai merintis karir sebagai karyawan bank swasta di kota
besar. Siklus kehidupan itu seolah menjadi garis takdir bagi keluarganya. Semua
anggota keluarga mengawali perantauan di kota besar dengan mendapatkan
pekerjaan. Nabila pun awalnya bekerja di perusahaan asuransi sebelum dinikahi Kang
Maksum.
“Hanya di hari sabtu
dan minggu, aku bisa pulang dan bertemu ibu.” Fahri menaruh gelas berisi cendol
yang telah kosong. “Setiap kali bertemu, ibu selalu bilang seperti ini,
‘segeralah menikah, nak! Ibu ingin menyaksikan pernikahanmu sebelum meninggal.”
“Apa harus akang
carikan calon untukmu?” Kang Maksum terus menggoda.
“Sudah ada, Kang! Insya
Allah, itu pilihan terbaik.”
* * *
Perempuan hamil yang tinggal
sendirian saat suaminya bekerja. Bujukan Nabila itu ternyata berhasil. Ibu
Sutarmi bersedia tinggal di rumah Nabila. Itu artinya anggoat keluarga bisa sering
menemui ibu Sutarmi, mengingat rumah Nabila berada di kawasan terpadu. Keadaan
itu menjadikan rumah Nabila selalu hangat, terutama setiap menjelang berbuka puasa.
Kehangatan kumpul bersama keluarga kembali terasa meski tidak utuh.
Ibu Sutarmi tak lagi
melamun, karena bisa bercerita banyak hal pada anak-anaknya yang datang di
waktu-waktu tertentu. Ibu Sutarmi pun tak lagi sendirian membuat rajutan.
Nabila selalu menemaninya saat senja sambil menunggu Kang Maksum pulang.
“Ibu mau buat apa?”
Nabila melirik ibunya yang baru akan memulai lagi.
“Selendang,”
“Untuk siapa, Bu?”
“Katanya lebaran nanti
Fahri akan memperkenalkan calon istrinya. Selendang ini untuk calon menantu
ibu, calon adik iparmu.”
Nabila tersenyum. Berita
itu sudah membuat Ibu Sutarmi merasa bahagia.
Beberapa hari
kemudian—setelah menyelesaikan selendang rajutan—Ibu Sutarmi kembali
berkeinginan untuk pulang. Perempuan hamil tidak boleh dibiarkan sendirian di
rumah, bujukan itu tidak lagi mempan untuk Ibu Sutarmi. Kang Maksum sudah
mendapat jatah libur lebaran. Usia kandungan Nabila baru akan menginjak delapan
bulan.
Berita kepulangan Ibu
Sutarmi terlambat sampai ke telinga Fahri. Bank tempatnya bekerja mencapai
puncak kesibukan. Selain itu, Fahri juga tersedot oleh kesibukan calon
mertuanya dalam menyambut lebaran.
“Ibu ingin mengurus
makam almarhum ayah kita. Teteh tidak bisa mencegahnya,” kata Nabila sambil
merapikan bawaannya. “Ibu juga ingin mempersiapkan segala sesuatu di acara kumpul
keluarga. Jangan khawatir katanya. Ibu dibantu oleh tetangga.”
“Calon anggota baru
keluarga juga harus hadir,” Kang Maksum menimpali sambil menenteng parsel. “ada
kabar dari yang lainnya?”
“Kang Muslihat katanya
baru saja sampai. Aku.. besok setelah ied. Shilaturahim dulu dengan keluarga
ukhti, lalu minta izin membawa ukhti ke hadapan ibu.” Fahri mengabari sesuatu. Smartphone-nya berdering. Calon istri
memanggil.
Nabila dan suaminya
saling lirik sambil tersenyum. Pasutri itu kembali mengemas barang bawaannya.
Di sela persiapan akhir, keduanya mendengar nyala mesin mobil Fahri. Adik
bungsunya itu bergegas ke suatu tempat.
Langkah pulang
direntang setelah tak ada lagi yang dikhawatirkan. Sebuah rumah megah di
komplek elite mendapat penjagaan superketat. Tuan rumah hanya perlu mematikan
semua perlengkapan listrik, dan memastikan tidak ada api yang menyala. Setelah
itu, mobil mewah meluncur ke kota kecil.
Suasana jalanan sangat
kontras. Kemacetan terjadi menuju arah kota besar. Jalur menuju kota kecil
sangat lengang. Kang Maksum bisa memacu kendaraan lebih cepat hingga meringkas
jam perjalanan.
Gapura besar menjadi
penanda masuk kampung halaman yang sudah padat. Jalanan mulus dengan bangunan
megah di tiap sisinya. Kampung halaman yang selalu ada perubahan di tiap
tahunnya. Termasuk rumah-rumah tempo dulu yang berganti dengan bangunan modern
minimalis. Kecuali rumah ibunya yang masih mempertahankan gaya lama.
Rumah tua bergaya art
deco dengan halaman yang luas, namun tak cukup mampu menampung banyaknya mobil
yang datang. Kang Maksum memarkirkan mobil di pinggir jalan, tepat di bawah
pohon akasia. Nabila turun lebih dulu. Disusul Kang Maksum yang menggandeng
tangannya. Langkah keduanya menjejaki halaman. Di luar, tampak sanak saudara
sedang berkerumun. Wajah mereka tertunduk, diliputi kesedihan.
“Aneh…” Kang Maksum
bergumam dalam hati. “assalamualaikum…”
Ada getaran dari suara
yang menjawab salam. Sambutan aneh diberikan sanak saudara. Nabila cukup
terkejut. Namun Kang Maksum lebih memilih menuntun Nabila ke pusat kerumunan:
ruangan tengah, tempat di mana ia lamat-lamat mendengar seseorang melantunkan
tahlil.
Suara tahlil itu kian
jelas. Pada jarak yang cukup dekat, tampak Kang Muslihat sedangan menuntun Ibu
Sutarmi untuk mengucap tahlil. Tubuh Ibu Sutarmi terbaring kaku. Wajahnya pucat
pasi. Matanya terpejam. Bibirnya bergerak sedikit sambil mendesiskan tahlil.
Suara yang mengalun merdu itu diakhiri dengan embusan napas panjang nan
melegakan. Lalu isak tangis memenuhi seisi ruangan. Kang Maksum tidak bisa
menahan Nabila untuk berlari memeluk Ibu Sutarmi.
Kerumunan kian
bertambah. Kang Maksum memilih mundur perlahan. Hujan air mata mengguyur
kediaman keluarga besar mertuanya. Kang Maksum tidak mau larut meski hatinya
terasa sangat bersedih. Ia masih memiliki kekuatan untuk bertahan dalam
kesadaran. Kang Maksum segera menghubungi anggota keluarga yang tampak belum
hadir.
“Fahri, segera ke rumah
ibu sekarang. Semua orang sudah menunggumu. Kita semua sedang berkumpul bersama
ibu.”
Di ujung sana, smartphone Fahri berbunyi. Begitu
membaca BBM yang dikirim Kang Maksum, Fahri segera meluncur bersama calon istri
yang akan ia perkenalkan kepada ibunya: perempuan cantik dengan selendang rajut
buatan Ibu Sutarmi. * *
Majalaya, Juni
2015