Dimuat Inilah Koran, 7 Juni 2015
![]() |
| Add caption |
WAYANG GOLEK DAN ULTRAMAN
Cerpen: Yadi Karyadipura
Seandainya kau pernah
menyaksikan acara yang mengumbar cerita pilu di televisi—saat seseorang menjadi
objek tontonan dengan eksploitasi wajah penuh kesedihan serta keadaan yang
dikerangkeng oleh penderitaan—yang membuat acara itu pasti belum datang ke
tempat kami. Cerita pilu itu ada di sini. Isak tangismu akan semakin membuat
pilu suasana seperti suara ngilu gesekan pada dawai biola yang berkarat.
Garniwa—adiknya Sampani
yang berkeinginan bekerja di luar negeri dengan harapan bisa memiliki
penghasilan yang layak—selalu mendatangiku saat ingin menenangkan diri. Sampani
pun melakukan hal sama saat keyakinannya akan sesuatu mulai goyah oleh pertempuran
antara logika dan perasaan.
“Setiap manusia memiliki
tujuannya masing-masing,” ujarku di suatu kesempatan saat Sampani berkunjung ke
rumahku. “Tujuan itu yang membuatnya begitu berharga. Ingatlah pada tujuanmu,
Sampani.”
Kalimat itu seolah
menjadi salam perpisahan. Sampani kembali merantau ke Katapang besoknya. Begitu
pun dengan Garniwa yang telah memulai persiapan perantauannya ke Republik Korea
dengan mengikuti pelatihan di Bekasi. Keduanya sudah merentangkan garis
nasibnya masing-masing. Hingga suatu hari aku mendapat kabar buruk jika Sampani
menderita sakit parah di Katapang. Padahal besoknya Hari Raya Idul Fitri, dan
teman-teman akan berkumpul di rumahku untuk shilaturahim serta merencanakan
rekreasi.
Dan kepulangan Sampani
dengan keadaan menyedihkan menjadikan suasana hari raya tahun ini lebih mirip
keadaan mencekam usai dilanda bencana besar. Di salah satu masjid di Kampung
Balekambang—sebuah kampung di Kota Majalaya, kampung yang tak lagi sunyi karena
sudah padat dengan rumah dan pabrik—jamaah mendoakan kesembuhan Sampani sembari
berbisik-bisik tentang penyakit yang menderanya.
“Pastilah itu azab!”
Begitu anggapan mereka.
Lantas dengan penuh rasa belas kasih mereka meminta Sampani untuk segera bertobat
atas segala kekhilafannya. Segalanya memang berubah sejak Sampani merantau ke
Katapang. Di kota kecil yang berdekatan dengan pusat pemerintahan kabupaten
itu, Sampani tinggal dan bekerja di panti asuhan. Mereka mengaitkan limpahan
materi yang didapatkan Sampani dengan asal muasal penyakit mematikan yang
menderanya.
* * *
Bila suatu hari kau
mendengar ceritaku, kau akan mulai menimbang caramu menggunakan waktu luang
dengan menonton acara TV yang mengumbar kesedihan seseorang. Karena di tempat
kami, cerita sedih tidak hanya berkaitan dengan orang yang mengalaminya, tapi juga
terhubung dengan orang lain seperti jaringan pararel.
Ini tentang Sampani dan
Garniwa. Garniwa ingin sekali mengejar mimpi yang seolah terus menerus melambai
padanya. Sampani ingin sekali jenjang karir—menaiki tangga demi tangga yang
bagai menyimpan berjuta kebahagiaan di puncaknya—yang bisa mengubah hidupnya
serta keluarganya. Namun keduanya tidak bisa. Hingga akhirnya Sampani
menjadikan titian tangga-tangga kebahagiaannya untuk merengkuh mimpi bersama
Garniwa.
“Jangan pernah mengejar
mimpi itu!” kata Ibu Rukayah. “Kau hanya akan menjumpai penderitaan. Tempat
hidup manusia egois yang akan mengasingkanmu. Kau dengar suara-suara
menyedihkan di negeri sana?” lalu Garniwa mendengar jerit pilu seorang pembantu
yang disiksa majikannya sepanjang hari. “Kau akan mendapat perlakuan seperti
itu!”
“Jangan pernah berpikir
tentang karir itu,” kata Pak Dalimin. “Di atas sana kau hanya akan merasakan
kehampaan. Jiwamu akan digerogoti ketamakan yang tidak pernah mengenal kepuasan.
Kau lihat orang-orang yang bertengkar di atas sana?” Sampani memang selalu
melihat drama bodoh yang dilakukan orang-orang besar. “Setan-setan itu akan
terus mencambukmu seperti kuda pacu.”
Ibu Rukayah menatap
Garniwa yang menunduk menahan geram. Sebelum mengambil langkah, beliau pastikan
segala petuah telah mengikat anaknya dengan lilitan yang kuat. Sebelum melepas
Sampani, Pak Dalimin mengelus kepala anaknya yang diam memandangi jalan terjal
yang akan dilalui. Ibu bapak itu mencoba merintangi jalan dua anak mereka. Namun
pemikiran ibu bapak itu tampak seperti tembok bendungan tua yang kepayahan
menampung derasnya air.
Limpasan air di
bendungan tua itu telah melahap semua onak duri yang merintangi jalan menuju
kehidupan yang lebih baik. Watak Sampani dan Garniwa memang sudah terlihat
sejak masih kanak-kanak. Keduanya jarang sekali bermain kelereng, gatrik,
boy-boyan atau petak umpet. Keduanya lebih suka bermain sendiri. Sampani senang
bermain wayang golek, sementara Garniwa memainkan ultraman. Sampani sangat suka
membuat wayangnya berkelahi dengan buta hẻjo.
Sedangkan Garniwa bersemangat menumpas monster yang merusak kota.
Itu permainan
sederhana. Sampani dan Garniwa mengumpulkan tokoh-tokoh pahlawan dan penjahat.
Mereka sudah belajar bahwa kebenaran harus menumpas kejahatan. Hidup dengan
berjuang menegakan kebenaran dan membasmi kejahatan memang menyenangkan.
Percayalah, itu bisa dimulai dari permainan yang kau mainkan saat kau masih
kanak-kanak.
Seiring waktu yang
dilalui dengan deru kerja keras dan untaian doa, maka terdengarlah keberhasilan
Garniwa melewati tahapan seleksi. Terdengar pula kegemilangan Sampani dalam
jenjang karir. Kehidupan terlihat terang, seperti ada cahaya kebahagiaan yang
menyemburat lewat jendela surga. Namun kemudian kehidupan kembali gelap. Bahkan
lebih gelap dari sebelumnya. Keluarga itu mendengar embus napas terengah-engah.
Suara merintih dalam kegelapan seperti musafir yang dikejar iblis yang keluar
dari pintu neraka.
Kau belum tentu bisa
sepertiku, Sampani, Garniwa, atau anak-anak Majalaya lainnya. Demi tuntunan
yang menjadi intuisi, kami membiarkan mereka menganggap kami hina, lalu kami terbuang
dan hidup sebagai budak kegelapan. Tapi jangan pernah sekali-kali mendikte
pemikiran kami. Prinsip itu membuat kami
bahagia, meski dikucilkan.
Ada tradisi yang
mengelilingi hidup kami, yang tak boleh kami melewatinya. Kami hanya berani
muncul ketika keputusasaan membuat kota
ini semakin menyedihkan: rumah-rumah tua dan angker dengan sarang laba-laba
seperti usus berjuntaian. Bayangan masa depan terlihat pucat. Hanya orang-orang
yang dicap bermasalah yang nekat keluar kota. Cara mereka pergi pun dengan
mengendap-endap seperti pendosa yang membuang janin aborsi.
Maka masyarakat pun
heran ketika ada anak muda yang mengambil jalan hidup dengan penuh keberanian. Mereka
mengira Sampani mungkin hanya akan menjadi buruh bangunan di kota besar, begitu
pun dengan yang dilakukan Garniwa di luar negeri. Bekerja di luar kota—apalagi di
luar negeri—memang terkenal dengan gajinya yang besar, meski pun menjadi kuli
atau babu. Namun masyarakat kaget ketika mereka meyakini kenyataan yang tak
sesuai prasangka. Sampani menjadi orang kepercayaan yayasan, sedangkan Garniwa
menjadi tenaga ahli di perusahaan otomotif.
Mereka pun mulai
berspekulasi. “Kerja di konstruksi baja? Mana mungkin! Garniwa paling bagus
kerja di restoran. Ia bagian menggoreng daging babi,” kata seseorang saat
membeli rokok. Ocehannya ditanggapi pemilik warung, “Sampani juga kerja di
panti asuhan bisa cepat kaya. Paling dia korupsi uang sumbangan. Lihat sekarang
kondisinya,”
Mereka pun mengajak
yang lain untuk duduk melingkar. Pembeli rokok itu bersungut-sungut, terus
meyakinkan bahwa ia tak berbohong. Begitu tenang ia menjelek-jelekan Sampani
dan Garniwa.
Aku tersenyum nyinyir
melihat bekas luka di bahu kanannya. Aku mengenalnya. Orang itu anak tukang
baso yang tinggal di desa sebelah. Pastilah ia telah mahir bertutur elegi. Dua
orang tuanya dipenjara karena kedapatan membuat baso dari daging celeng. Istri
orang itu kabur, dan kemudian diberitakan telah menjadi budak nafsu seorang
politisi. Orang itu pun pernah menjadi kuli bangunan di Kuala Lumpur. Ia
dipulangkan karena terjatuh saat bekerja di sebuah proyek apartemen.
Pelan-pelan dari
belakang kujulurkan tanganku ke bahunya, lalu meremasnya. Ia melirikku penuh ketakutan
sebelum bergegas pergi.
Kemiskinan,
penderitaan, luka, dan rasa sakit seolah telah menjadi kutukan. Berusaha adalah
kewajiban. Meski maju tidak bisa, mundur pun percuma. Masyarakat seolah tak
pernah lagi merasa bahagia setiap kali mata mereka menatap masa depan; sejak
pabrik-pabrik milik pribumi berjatuhan lalu berdiri pabrik-pabrik milik orang
asing. Kepala mereka penuh kenangan indah. Bahkan setelah lewat setengah abad, mereka
masih saja merindukan kegaduhan alat tenun kayu.
Mereka menantikan saat
untuk bangkit, namun entah kapan itu terjadi. Maka jadilah setiap orang yang
berhasil di luar, mereka tentu akan membuntutinya. Sampani dan Garniwa bisa
menjadi contoh baru dalam upaya melawan kutukan. Mereka sering membicarakan
Sampani dan Garniwa. Baik ketika meraih keberhasilan, maupun saat dirundung
duka.
* * *
Aku dan beberapa teman sering
mengunjungi Sampani yang dirawat di rumah sakit. Dalam suatu kunjungan, Ibu Rukayah
berkata bahwa sepanjang malam ia terus terjaga dengan duduk di kursi yang
menghadap ranjang. Ibu Rukayah merasa malaikat maut akan datang untuk mengambil
nyawa anaknya. Tissu tak jauh dari jangkauannya. Matanya selalu berair. Seolah
tiada yang tersisa dalam hidupnya selain penderitaan dan keputusasaan.
Sampani sering
mengigau. Saat terjaga, ia selalu menanyakan ponsel dan laptop, lalu meracau
tentang sejumlah pekerjaan yang harus diselesaikan. Aku dan teman-teman menasihatinya
untuk beristirahat.
“Kamu sudah seperti
mayat hidup,” kataku sambil memijati tangan Sampani yang tinggal tulang
berbalut kulit. “Beristirahatlah!”
Tapi Sampani tak mau
menyerah meski tubuh telah begitu lemah. Tak mau takluk oleh penyakit. Sampani
rutin menenggak bergelas-gelas air putih. Tak pernah melewatkan mengonsumsi segala
obat yang diberikan dokter. Ponsel dan laptop selalu ia nyalakan untuk bisa
melakukan apa pun agar tidak bosan. Sebuah map terselip di antara tumpukan
barang-barang inap. Pertanda masih ada denyut pekerjaan di dalam dinginnya isak
ruang rawat inap.
Suatu hari aku
mendapati orang-orang itu datang: orang-orang penting di yayasan tempat Sampani
bekerja. Di pintu masuk, orang-orang yang memakai batik dan kopiah telah
berdiri. Mereka lantas melangkah masuk; menengok, mendoakan, memberi uang, dan
juga menanyakan pekerjaan yang belum terselesaikan.
Dunia telah dipenuhi mayat
hidup. Setiap saat zombie itu akan menyerang siapa pun. Sebelum zombie-zombie
itu lenyap, menyerah pada keadaan bukanlah pilihan. Lalu map yang terselip itu
pun diambil oleh Sampani. Ia bekerja di atas ranjang rumah sakit dengan selang
infus yang masih menancap di tangannya.
Mungkin Sampani merasa
berhutang pada orang-orang itu. Karena orang-orang itu telah membantunya
mendapatkan kehormatan, dan materi yang melimpah. Ingatlah, uang yang digunakan
untuk keperluan Garniwa selama seleksi hingga pelatihan. Uang bulanan yang
digunakan keluarga agar tidak terus menghutang. Lalu rumahnya—bangunan kumuh di
pinggir jalan yang sudah tua dan penuh rasa sakit—berubah menjadi tempat
tinggal modern minimalis yang nyaman karena uang dari Sampani. Rumah yang kini
memiliki loteng agar ibunya tidak menjemur pakaian di pinggir jalan.
Kini semua tampak
menyedihkan. Tiga bulan telah berlalu. Kondisi Sampani belum menampakan
perkembangan menuju kesembuhan. Penyakit yang dideritanya justru telah membuatnya
menjadi makhluk kumal dengan mata merah cekung, hingga siapa pun merasa iba
saat melihatnya. Tapi Sampani sudah menerima keadaannya yang menyedihkan. Ia
mulai terbiasa dengan kesendirian. Mengurung diri dalam kamar bersama
kecemasannya. Berbulan-bulan, dan para kenalan pun mulai melupakannya. Sampai
tetangga pun tak ada lagi yang menjenguknya. Mereka bahkan tidak lagi menggunjingnya.
Mereka sudah menganggap Sampani sebentar lagi akan meninggal. Sepertinya,
mereka telah menyiapkan liang lahat dan kain kafan.
Sampani telah
tercampakan. Ia telah merasa begitu, bahkan ia menganjurkanku untuk berhenti
menanyai kabarnya. Aku memang berhenti menanyai kabarnya, tapi aku tetap
mendengarkan segala keluhannya. Tentang penderitaan yang terus mendera,
kekecewaan, dan satu hal yang dulu menurutku itu mustahil diucapkan oleh
Sampani, “aku telah putus asa.”
Air mataku sempat
menetes saat mendengar kalimat itu muncul di sela bibirnya yang gemetar. Lewat
sorot matanya yang sayu, aku melihat kehancuran yang sudah tidak terhindarkan.
Pondasinya telah hancur: Ibu Rukayah telah lelah menangis, Pak Dalimin sudah
terkulai menyerah dalam berikhtiar, dan jauh di seberang sana—di sebuah negeri
yang lebih indah, teratur, dan makmur—terdengar kabar jika Garniwa dianiaya
oleh teman senegaranya sendiri karena statusnya lebih tinggi di perusahaan.
* * *
Majalaya, Februari 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar